NIAS SELATAN(Portibi DNP): Kepala SMA Negeri 2 Mazo, Kabupaten Nias Selatan, Agustina Dachi, angkat bicara terkait pemberitaan yang sebelumnya mempertanyakan kehadirannya di sekolah serta pelaksanaan tugasnya sebagai kepala satuan pendidikan.
Agustina menyampaikan klarifikasi setelah pemberitaan mengenai dirinya beredar di sejumlah platform media digital. Ia membantah anggapan bahwa dirinya meninggalkan tugas atau tidak menjalankan tanggung jawab sebagai kepala sekolah dalam waktu yang disebutkan dalam pemberitaan.
“Saya mengaku trauma membaca pemberitaan itu. Dikatakan saya tidak hadir sejak Februari sampai sekarang, itu terlalu menyakitkan. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dianggap tidak menjalankan amanah, padahal setiap hari saya hadir bertugas,” ujar Agustina saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
Menurut Agustina, sejak dilantik sebagai Kepala SMA Negeri 2 Mazo, dirinya tetap menjalankan tugas dan hadir pada hari kerja. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadiran pada waktu tertentu terjadi karena alasan yang menurutnya dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menyebut pernah tidak berada di sekolah karena harus menangani kondisi kesehatan anaknya. Selain itu, pada September 2026, dirinya juga sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Bethesda.
Agustina menegaskan bahwa kondisi tersebut telah disampaikan kepada pimpinan dan bukan merupakan bentuk meninggalkan tugas tanpa pemberitahuan.
“Saya bukan mengaku sempurna. Saya manusia biasa, pegawai negeri yang berusaha menjalankan tugas sebaik mungkin. Ada saat saya sakit, ada saat keluarga sakit. Itu hal wajar, bukan berarti meninggalkan tugas,” katanya.
Selain persoalan kehadiran, Agustina turut memberikan klarifikasi mengenai pemberitaan yang mempertanyakan pelaksanaan revitalisasi bangunan sekolah.
Ia membantah anggapan bahwa pekerjaan revitalisasi tidak berjalan atau tidak ada tenaga ahli yang datang ke lokasi.
Menurut Agustina, pekerjaan revitalisasi dilaksanakan berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah disahkan. Ia juga menyebut konsultan pelaksana telah datang ke lokasi sesuai jadwal pekerjaan.
Kegiatan tersebut, lanjutnya, dikelola oleh panitia yang telah dibentuk secara resmi sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak seluruhnya menjadi tanggung jawab kepala sekolah secara langsung.
“Saya tidak mungkin sendiri mengerjakan semuanya. Ada struktur, ada panitia, ada tenaga ahli. Kami bekerja secara teratur dan bertanggung jawab. Mengapa hanya mengambil sisi yang terlihat buruk tanpa melihat keseluruhan proses?” tegasnya.
Agustina juga menilai sejumlah foto yang digunakan dalam pemberitaan sebelumnya hanya memperlihatkan sebagian kondisi bangunan dan belum menggambarkan keseluruhan proses revitalisasi.
Namun demikian, keterangan mengenai pelaksanaan revitalisasi tersebut masih dapat diverifikasi melalui dokumen pekerjaan, RAB, laporan pelaksanaan, serta keterangan panitia dan pihak konsultan atau pelaksana yang terlibat.
Dalam keterangannya, Agustina juga mengaku merasa tertekan setelah pemberitaan mengenai dirinya tersebar luas. Ia menyebut ada pihak yang menghubunginya dengan mengatasnamakan pihak tertentu, namun menurutnya identitas dan kewenangannya belum jelas.
“Saya siap diawasi, siap diperiksa, tetapi lakukanlah dengan prosedur yang benar, jangan teror,” ujarnya.
Agustina mengatakan dirinya tidak menolak kritik maupun pengawasan terhadap pelaksanaan tugasnya sebagai kepala sekolah. Ia hanya meminta agar setiap informasi mengenai dirinya terlebih dahulu dikonfirmasi kepada pihak sekolah.
“Berita yang menyebar ini sudah sampai ke mana-mana, sampai ke telinga kerabat, sampai ke keluarga. Sebagai manusia, saya juga punya perasaan. Mohon jangan menyebarkan hal yang menyakiti tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu,” katanya.
Ia memastikan pihak sekolah terbuka apabila media maupun masyarakat ingin mendapatkan penjelasan mengenai persoalan yang berkembang.
“Hubungi kami, tanyakan, konfirmasilah. Kami terbuka. Saya siap dikritik, saya siap dibenarkan, tapi berdasarkan fakta, bukan rekayasa. ” ucap Agustina. (SW)




















