NIAS SELATAN (PortibiDNP): Perkumpulan Doktor Nias Indonesia (PDNI) Kepulauan Nias periode 2026-2030 resmi dilantik. Mengusung nama PDNI “Sanuwu Tano Niha”, organisasi ini didorong menjadi rumah intelektual yang mampu melahirkan gagasan, kajian, inovasi, dan solusi konkret bagi pembangunan Kepulauan Nias.
Pelantikan berlangsung di Dinas Hall, Jalan Pramuka Nari-Nari, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sabtu (3/10/2026).
Pengurus PDNI Kepulauan Nias dilantik langsung Ketua Umum PDNI, Dr. Alpius Sarumaha, SH., MH., didampingi Sekretaris Umum PDNI, Assoc. Prof. Suardin Gaurifa, M.Th.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia, perwakilan Polres Nias Selatan, Danramil 12/Teluk Dalam, perwakilan Kejaksaan Negeri Nias Selatan, Ketua Bawaslu Nias Selatan, jajaran KPU Nias Selatan, serta sejumlah pengurus organisasi kemasyarakatan.
Untuk periode 2026-2030, PDNI Kepulauan Nias dipimpin Dr. Yasatulo Lase, SE., MA., MAP., CPHRM., HRBP., HRMP., C.PS. sebagai ketua. Ia didampingi Dr. Konstan Dakhi sebagai sekretaris dan Dr. Nurhayati Telaumbanua sebagai bendahara.
Dalam sambutannya, Yasatulo menegaskan bahwa pelantikan tersebut bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum untuk meneguhkan tanggung jawab moral, intelektual, dan sosial para doktor terhadap tanah kelahiran.
“Kepercayaan ini tidak kami maknai sebagai amanah pribadi, melainkan sebagai tanggung jawab untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Yasatulo.
Menurutnya, gelar doktor dan pencapaian akademik tidak boleh menjadi akhir perjalanan intelektual. Sebaliknya, capaian tersebut harus menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Gelar doktor bukanlah kendali perjalanan intelektual, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Yasatulo mengatakan PDNI Kepulauan Nias harus menjadi rumah besar bagi para intelektual asal Nias untuk berpikir, berdiskusi, berkolaborasi, dan menghasilkan gagasan yang berdampak bagi kemajuan daerah.
Ia menyebut Kepulauan Nias memiliki kekayaan alam, budaya, sejarah, sumber daya manusia, serta potensi ekonomi yang besar. Namun, berbagai potensi tersebut masih menghadapi tantangan pembangunan yang membutuhkan pemikiran berbasis pengetahuan dan kerja nyata.
“Di sinilah PDNI harus mengambil peran. PDNI tidak boleh hanya hadir pada saat-saat tertentu. PDNI harus menjadi wadah yang mampu menghadirkan data, penelitian, rekomendasi, inovasi, dan kerja nyata,” ujarnya.
Beragamnya latar belakang keilmuan anggota PDNI, mulai dari pendidikan, hukum, ekonomi, pemerintahan, kesehatan, geologi, teknologi hingga sosial budaya, dinilai menjadi modal penting untuk membangun kolaborasi lintas disiplin.
“Kita harus bersatu. Kita harus satu. Dengan begitu, kita akan kuat untuk menjadi salah satu mitra strategis bagi Kepulauan Nias,” kata Yasatulo.
Ia juga mengajak para anggota PDNI mengubah tradisi diskusi agar tidak berhenti pada pembahasan persoalan, tetapi diarahkan pada pencarian solusi.
“Kita tidak hanya bertanya apa masalahnya, tetapi juga apa yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan sesuai dengan keilmuan yang kita miliki,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia mengatakan kehadiran PDNI Kepulauan Nias dapat menjadi ruang bagi para intelektual untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan masyarakat.
“Pelantikan ini bukan hanya sebuah seremoni, tetapi merupakan momentum penting untuk menghimpun kekuatan intelektual dan keilmuan dalam memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan masyarakat Kepulauan Nias,” kata Sokhiatulo.
Ia menilai para doktor memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman, serta perspektif yang dibutuhkan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Menurutnya, potensi Kepulauan Nias perlu didukung ilmu pengetahuan, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar dapat dikembangkan secara optimal.
Karena itu, ia berharap PDNI menjadi wadah yang mempertemukan para ahli dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu sehingga pengetahuan yang dimiliki tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga memberikan manfaat bagi pembangunan daerah.
“PDNI diharapkan menjadi ruang untuk melahirkan gagasan-gagasan strategis, kajian, inovasi, dan rekomendasi yang dapat membantu pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih tepat, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sokhiatulo menegaskan pembangunan tidak semestinya hanya berjalan berdasarkan kebiasaan, tetapi harus semakin ditopang oleh data, ilmu pengetahuan, kajian akademis, inovasi, dan pemikiran yang visioner.
Ia pun menyambut baik kehadiran PDNI sebagai salah satu mitra strategis pemerintah daerah dan berharap para doktor dapat mengambil peran melalui penelitian, inovasi, pendampingan, pengembangan sumber daya manusia, serta berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap para doktor yang tergabung dalam organisasi ini dapat mengambil peran dalam memberikan pemikiran, penelitian, inovasi, pendampingan, pengembangan sumber daya manusia, serta berbagai bentuk pendampingan kepada masyarakat,” katanya.
Kepada pengurus yang baru dilantik, Sokhiatulo berpesan agar PDNI dijalankan secara terbuka, produktif, dan penuh tanggung jawab.
“Jadikan organisasi ini bukan hanya sebagai wadah berkumpul para tokoh, tetapi sebagai wadah lahirnya gagasan-gagasan besar untuk Nias,” ujar Sokhiatulo.
Ia juga mendorong PDNI memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, serta masyarakat luas.
Pada akhirnya, ia berharap pencapaian pendidikan dan keilmuan para doktor dapat dikembalikan dalam bentuk pengabdian dan kontribusi bagi tanah kelahiran.
“Ilmu pengetahuan yang dimiliki para doktor hendaknya dapat memberikan kontribusi dan pengabdian bagi tanah kelahiran,” katanya.(SW)





















