Bawolato, NIAS(Portibi DNP) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nias kembali menjadi sorotan setelah beredar sebuah video berdurasi sekitar 38 detik yang memperlihatkan benda yang disebut menyerupai keong di dalam menu makanan MBG.
Video tersebut diunggah melalui akun Facebook Meiman Telaumbanua pada Senin (10/8/2026). Dalam unggahan itu terdapat keterangan singkat, “he keong SPPG Bawolato”.
Unggahan tersebut kemudian mendapat perhatian publik dan memunculkan pertanyaan mengenai keamanan serta kualitas makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat program MBG.
Berdasarkan informasi yang didapatkan awak media ini, makanan tersebut disebut berasal dari SPPG Sisarahili Bawolato, Desa Sisarahili Bawolato, Kecamatan Bawolato, yang dikelola oleh Yayasan Pondok Hilizia Permai.
Munculnya video tersebut turut menyoroti proses pengawasan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku, pencucian, pengolahan, hingga pemeriksaan akhir sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.
Untuk memperoleh kejelasan, awak media melakukan konfirmasi kepada Korwil SPPG Kabupaten Nias, Yusminar S. Gulo.
Yusminar membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai adanya makanan yang dinilai tidak layak dalam distribusi MBG.
Menurutnya, laporan tersebut disampaikan oleh salah seorang PIC melalui pesan WhatsApp.
“Salah seorang PIC melaporkan melalui chat WA kalau di MBG yang kita distribusikan terdapat makanan tidak layak (ada keong),” jelas Yusminar.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak SPPG mengaku langsung meminta agar makanan diganti.
“Langsung saya jawab chat-nya, segera kami ganti, Pak,” ujarnya.
Yusminar mengatakan makanan tersebut kemudian diganti dan dikirim kembali ke sekolah. Proses penggantian itu, menurut dia, juga telah dituangkan dalam berita acara.
“Dan itu sudah langsung kita ganti dengan membuat surat berita acara pergantian MBG. Dan itu sudah sampai di sekolah dan surat berita acaranya sudah ditandatangani,” jelasnya.
Selain melakukan penggantian makanan, pihak SPPG menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap proses pengolahan makanan di SPPG Sisarahili Bawolato.
“Akan dilakukan evaluasi pemeriksaan dan pengecekan khusus terkait pengolahan SPPG ini,” kata Yusminar.
Pernyataan tersebut menempatkan persoalan ini bukan sekadar pada penggantian satu porsi makanan, tetapi juga bagaimana sistem pengawasan keamanan pangan diterapkan sebelum makanan sampai kepada siswa.
Jika benda yang terlihat dalam video nantinya terkonfirmasi sebagai keong dan berasal dari proses pengolahan makanan, maka perlu ditelusuri bagaimana benda tersebut dapat lolos dari tahapan pencucian, pengolahan, pemeriksaan, hingga distribusi.
Sejumlah warga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap SPPG Sisarahili Bawolato.
Pemeriksaan diharapkan mencakup kebersihan dapur, pencucian bahan makanan, penyimpanan bahan baku, proses pengolahan, pengemasan, hingga pemeriksaan akhir sebelum makanan dikirim ke sekolah.
Menurut warga, aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian utama karena program MBG menyasar anak-anak sekolah.
“Jangan sampai program yang tujuannya memberikan makanan bergizi kepada anak-anak justru menimbulkan persoalan karena lemahnya pengawasan. Kalau memang ditemukan pelanggaran serius, harus ada tindakan tegas,” harap seorang warga.
Warga juga mendorong agar evaluasi yang dilakukan tidak berhenti pada tindakan administratif, melainkan benar-benar menelusuri akar persoalan sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Salah seorang warga bahkan meminta agar BGN mempertimbangkan tindakan lebih tegas apabila pemeriksaan resmi nantinya menemukan pelanggaran serius terhadap standar keamanan pangan.
“Kalau hasil pemeriksaan memang menemukan pelanggaran serius, jangan hanya diberi teguran. BGN harus berani mengambil tindakan sesuai aturan, termasuk menghentikan sementara operasional sampai standar keamanan pangan benar-benar dipenuhi,” ujarnya.
Meski demikian, tindakan berupa penghentian sementara operasional SPPG semestinya didasarkan pada hasil pemeriksaan dan temuan resmi, bukan semata-mata berdasarkan video yang beredar di media sosial. Kasus ini juga diharapkan tidak berhenti setelah makanan diganti dan berita acara ditandatangani.
Publik membutuhkan kepastian bahwa makanan yang diterima siswa pada distribusi berikutnya aman, layak konsumsi, serta diproses sesuai standar yang berlaku.
Media juga mendorong agar hasil evaluasi dan pemeriksaan khusus yang dijanjikan pihak SPPG dapat disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Transparansi tersebut penting untuk memastikan adanya langkah perbaikan dan mencegah persoalan serupa terulang.
Hingga berita ini diterbitkan, keberadaan benda yang disebut sebagai keong dalam video belum diverifikasi secara independen oleh media.
Namun, Korwil SPPG Kabupaten Nias telah mengonfirmasi adanya laporan mengenai makanan yang dinilai tidak layak dan menyatakan bahwa makanan tersebut telah diganti serta akan dilakukan evaluasi dan pemeriksaan khusus.
Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Yayasan Pondok Hilizia Permai selaku pengelola SPPG Sisarahili Bawolato, pihak SMP Negeri 1 Bawolato, BGN, maupun pihak terkait lainnya.
Publik kini menunggu hasil evaluasi tersebut, apakah persoalan ini hanya berakhir pada penggantian makanan, atau menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pengawasan dan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG di SPPG Sisarahili Bawolato. (SW)




















