Terungkap, ” Diageni” PPTK Dinas Pangan Labuhanbatu, Belanja Mesin Penggilingan Padi Diduga Mark Up

Keterangan : Mesin penggilingan padi pangan sumber DAK 2021 Rp 500.000.000,- yang tidak berfungsi untuk menggiling padi di desa Sei Penggantungan.

LABUHANBATU( Portibi DNP): Harga pembelian fasilitas penggilingan padi berupa 1 (satu) unit mesin lengkap dengan alat pemecah padi dan polisher, yang anggarannya satu kesatuan dalam anggaran pembangunan lumbung pangan masyarakat (LPM) di Desa Sei Penggantungan, Kecamatan Panai Hilir, yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2021 senilai Rp 500.000.000 (Lima ratus juta rupiah) diduga membengkak atau di mark up.

Salah satu toko penjual alat alat mesin pertanian di kota Medan saat dikonfirmasi wartawan via pesan whatsapp dan telepon selular Sabtu (11/02/23) kemaren, mengatakan, harga penjualan 1 (satu) unit mesin lengkap dengan alat pemecah padi dan polisher dengan kapasitas 850 kg/jam seperti yang terpasang di LPM di Desa Sei Penggantungan, Kecamatan Panai Hilir, tidak sampai Rp 50.000.000,- ( Lima puluh juta) rupiah.

Dia menguraikan, untuk satu unit mesin penggiling padi dengan kualitas baik, harganya mencapai Rp 8 juta. Jika membeli lengkap dengan alat pemecah padi dan polisher, maka toko itu dapat memberi harga hampir Rp 50.000.000,- ( Lima puluh juta).

” Kalau mesin yang bagus itu harganya delapan jutaan. Kalau sama pemecah padi dan polisher harganya hampir lima puluh jutaan” terang toko penjualan alat alat mesin penggilingan padi pangan tersebut.

Harga yang disampaikan toko penyedia alat dan mesin pertanian itu, berbanding jauh dengan harga yang disampaikan oleh ketua kelompok tani Bunga Desa Sei Penggantungan Kecamatan Panai Hilir Labuhanhatu bernama Maksum, kepada wartawan yang berkunjung ke proyek lumbung pangan di Desa Sei Penggantungan, Sabtu (04/02/23) kemaren.

Maksum, mengatakan, harga pembelian mesin sebesar Rp 12.800.000,- (Dua belas juta delapan ratus ribu) rupiah. Dan alat pemecah padi serta polisher harganya lebih dari Rp 50.000.000,- (Lima puluh juta) rupiah.

” Seingatku harga mesin dua belas juta delapan ratus dan alat kupas padi lima puluh juta lebih” katanya.

Berdasarkan pengakuan Maksum, saat membeli mesin itu, dia berangkat ke Medan bersama ketua kelompok tani Sepakat desa Sei Penggantungan bernama Amat Bener yang merupakan pelaksana proyek swakelola itu dan bendahara kelompok tani serta Fahrul Harahap selalu PPTK Dinas Pangan Labuhanbatu.

Sesampainya di depan toko di Medan, yaitu tempat pembelian mesin dan alat penggiling padi yang dituju, terang Maksum, uang proyek DAK TA 2021 itu yang ditarik dari rekening kelompok tani, diserahkan kepada Fahrul Harahap PPTK.

Setelah uang diberikan kepada Fahrul Harahap, PPTK Fahrul Harahap masuk ke dalam toko, sedangkan Maksum bersama Amat Bener dan bendahara penerima dana DAK 2021 tersebut menunggu di luar toko.

” Kukasi sama dia uangnya. pak Fahrul Harahap untuk dana pembelian mesin inilah semua. Disini saja kau Sum , lalu dia (PPTK red) masuk kedalam toko” beber Maksum menceritakan proses pembelian mesin penggilingan padi pangan dimaksud.

Jika dikalkulasikan, maka harga pembelian mesin penggiling padi lengkap dengan alat pemecah padi dan polisher yang disebutkan Maksum sudah mencapai Rp 62,8 juta. Harga itu jauh lebih besar dari harga yang disampaikan toko penyedia alat dan mesin pertanian yang dihubungi wartawan yang sanggup menjual dengan harga sekitar Rp 50.000. 000,-(Lima puluh juta).

Kuat dugaan, harga pembelian fasilitas penggilingan padi melalui PPTK Fahrul Harahap itu telah di mark up atau membengkak dari harga yang sebenarnya.

Dugaan itu tidaklah berlebihan. Sebab, sebelumnya ketua kelompok tani Bunga Desa Maksum mengungkap adanya kesepakatan bisnis antara dirinya selaku pemilik lahan yang dihibahkan untuk pembangunan LPM (Lumbung Pangan Masyarakat) dengan ketua kelompok tani Sepakat Amat Bener dan Fahrul Harahap selalu PPTK Dinas Pangan Labuhanbatu dalam pelaksanaan proyek swakekola tersebut.

Atas kesepakatan itu, Maksum mengaku ditugasi sebagai penyedia bahan material atau bahan bangunan.Tidak tanggung-tanggung, Maksum mengaku meraup untung Rp 200.000,- (Dua ratus ribu ) dari setiap satu truk angkutan bahan material bangunan yang dipesan pada pembangunan lumbung pangan dan bangunan kilang padi di Desa Sei Penggantungan.

” Sepakat sama ketua Kelompok Tani Sepakat Amat Bener. Dibilangnya, bisa abang belanja. Ada kenal kita panglong disitu. Kami tunjukan sama pak Fahrul, ini standarnya harga pembelian bahan. Kayak akulah pribadi asalkan deal pula bayaranku, istilah bahan materialku. Amanlah. Mana tau aku urusan resiko, kalau untung sudah pastilah untung. Mana mungkin tidak ada untung kita kerjakan proyek itu, Dua ratus ribu satu motor (truk) sudah pastilah itu” ungkap Maksum menutup keterangannya.

Berita : Mora Tanjung.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Usai Sudah Kita Nyoblos..


Bolo : Bersatulah kita membangun bangsa..

 

Kebiasaan yang sudah ada bersatu kita teguh..


Bolo : Jadi semboyan hidup agar maju menuju Indonesia Emas 2045