BANDA ACEH(Portibi DNP): Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa cuaca esktrem masih akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia hingga 18 Juli 2025.
Dalam keterangannya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyebut bahwa kondisi dinamika atmosfer saat ini masih cukup aktif. Adanya fenomena gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) serta pola tekanan rendah di wilayah barat Sumatra turut memicu meningkatnya intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Aceh, sehingga cuaca di Aceh dalam beberapa hari ke depan masih berpotensi hujan, mulai dari intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Aceh dan sekitarnya.
Menurut Prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Amat Komi, menjelaskan bahwa sejumlah faktor atmosferik turut mendorong peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Aceh dan sekitarnya, Senin (14/7/2025)
“Meskipun kita sudah memasuki pertengahan musim kemarau, berbagai faktor atmosfer global dan regional masih mendukung terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem di banyak wilayah,” jelasnya, dikutip dari laman resmi BMKG.
“Terdapat daerah belokan angin (shearline) dan konvergensi yang memicu pertumbuhan awan hujan. Selain itu, gelombang atmosfer ekuatorial Rossby dan kelvin, sehingga anomali suhu permukaan laut di perairan Aceh terjadi peningkatan aktivitas konvektif dan penguapan,” ucap Amat.
Selain hujan lebat, angin kencang diprediksi melanda sejumlah wilayah dari barat hingga timur Indonesia, termasuk Aceh.
Ia menyebutkan, kondisi laut juga tak luput dari pengaruh cuaca ekstrem, pola angin di perairan Aceh umumnya bertiup dari Barat Daya hingga Timur Laut dengan kecepatan 4–25 knot, yang berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di beberapa perairan Aceh.
BMKG juga memperingatkan potensi gelombang tinggi di perairan sekitar Aceh, gelombang 1,25 – 2,5 meter berpeluang terjadi di perairan Aceh Singkil–Pulo Banyak, Selatan Simeulue, Aceh Barat Daya–Simeulue, dan Utara Pidie Jaya–Aceh Besar.
Kemudian gelombang 2,5 – 4 meter berpotensi terjadi di perairan Sabang, Banda Aceh, dan Aceh Besar–Meulaboh.
Amat Komi, mengimbau masyarakat agar tidak menganggap enteng potensi cuaca ekstrem yang bisa datang secara tiba-tiba.
Ia juga meminta masyarakat untuk, menghindari area terbuka saat terjadi petir, menjauhi pohon dan bangunan tua saat angin kencang, menjaga kesehatan, terutama saat terjadi kombinasi cuaca panas dan hujan.
“Masyarakat harus tetap waspada, meskipun secara kalender kita berada di musim kemarau. Jangan lengah, cuaca bisa berubah cepat dan membawa dampak besar,” tegasnya.
“Suhu udara yang cukup panas dan belokan angin serta suhu muka laut yang masih hangat membuat potensi hujan bisa terjadi sewaktu-waktu. Kami harap masyarakat tetap siaga,” ujarnya.
Cuaca ekstrem seperti ini merupakan bagian dari siklus iklim tropis yang dapat terjadi beberapa kali dalam setahun. Namun, kewaspadaan dan kesiapan menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak buruknya.YA




















