Sona Halawa Klarifikasi Berita Yang Terkesan Lindungi Mafia BBM Subsidi Dan Menyudutkannya

 

Pelalawan(Portibi DNP) :Perihal pemberitaan yang menyudutkan dirinya, Sona Halawa angkat bicara. Dia menilai berita oknum wartawan RSJ terhadap dirinya terlalu dipelintir. Sampai-sampai masa lalunya diungkit-ungkit pada hal tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi.

Demikian ditegaskan oleh Sona Halawa menanggapi berita miring terhadapnya baru-baru ini. Dia mengaku jawabannya yang ia kirim membalas WA konfirmasi RSJ, tidak dimuat secara utuh dalam pemberitaan, ujarnya kepada media ini Rabu (26/8/2026) di Pangkalan Kerinci.

Dijelaskan Sona, Senin sore kemarin RSJ yang mengaku wartawan sekoci24.co, kirim WA dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut: Kami ingin meminta klarifikasi berimbang mengenai beberapa poin tambahan berikut:

1. Apakah benar Anda sempat ditawari uang sebesar Rp 15.000.000 oleh pihak pengelola bisnis BBM, namun Anda menolak tawaran tersebut?

2. Beredar kabar bahwa sebagai gantinya, Anda meminta kompensasi dari 22 orang pelangsir minyak di Pangkalan Kerinci dengan tarif Rp 1.700.000 per orang, sehingga totalnya mencapai Rp 37.400.000. Bagaimana tanggapan Anda mengenai informasi ini?

3. Kami juga memohon konfirmasi terkait isu mengenai adanya uang bulanan Rp 500.000/ bulan selama ini dari saudara imam yang dikabarkan macet sebelum adanya pemberitaan dugaan mafia BBM di Kabupaten Pelalawan.

Menjawab konfirmasi tersebut Sona Halawa mengaku membalas WA RSJ dengan menjelaskan sebagai berikut:

1. Benar belum lama ini saya pernah ditawari sebesar Rp 15 juta sebagai uang suap oleh Kasno diduga bos mafia BBM subsidi untuk tidak memberitakan bisnis haramnya. Dengan tegas saya tolak dan tidak pernah saya terima karena saya menganggap itu uang haram dan sangat merendahkan harga diri saya.

2. Perihal uang yang saudara Richad Simanjuntak katakan senilai Rp 1,7 juta, perlu diluruskan bahwa saya hanya mempertanyakan kebenaran pengutipan uang setiap bulan sebesar RP 1.7 JT oleh Kasno melalui keponakannya Imam dari para mafia BBM subsidi yang berjumlah 22 orang. Informasi ini saya peroleh dari salah seorang diduga mafia BBM subsidi pada pertengahan tahun 2025 lalu. Dengan jumlah 22 orang yang dikutip senilai Rp 1,7 juta dalam sebulan maka jumlah nominalnya sebesar Rp 37,4 juta.  Karena uang kutipan tersebut diatasnamakan untuk wartawan, tentu saya sebagai seorang wartawan merasa dicemarkan dan tidak terima ulah orang tidak bertanggung jawab seperti itu. Maka uang kutipan tersebut saya pertanyakan kepada saudara Kasno dan Imam. Ternyata hal itu tidak dibantah oleh Kasno, sedangkan Imam beralibi mengutip hanya Rp 500 ribu perorang.

3. Perihal uang Rp 500 ribu pernah sekali dikirim oleh Imam kepada saya. Kemudian beberapa bulan kemudian Imam mengirim Rp 800 ribu, ketika yang kedua kali itu saya tolak mau saya kembalikan tapi Imam tidak mengirimkan nomor rekeningnya hingga membuat saya sangat marah kepadanya waktu itu. Itu terjadi antara Oktober atau November tahun 2024 yang lalu.

Lanjutnya, setelah pemberitaan hasil konfirmasi itu dishare oleh RSJ, dia kembali mengajukan pertanyaan menyangkut masa lalu saya, ucap Sona.  Perihal saya pernah ikut UKW (uji kompetensi wartawan) juga dipertanyakan. Tapi melihat pertanyaan dari RSJ tidak ada kaitannya dengan persoalan tersebut, Sona mengaku justru menyarankan RSJ untuk belajar memahami kode etik jurnalis.

” Saya membalas WA RSJ mengatakan, Tidak perlu saya tanggapi konfirmasi anda karena saya melihat tidak ada kaitannya dengan topik persoalan. Saya menganggap pertanyaan anda hanya faktor kurang wawasan dan tidak profesional sebagai seorang jurnalis yang mungkin didorong rasa sakit hati perihal dugaan anda menjual puluhan nama wartawan demi dapat uang dari bos mafia BBM subsidi, maka saudara Richad Simanjuntak saya sarankan agar belajar lebih memahami kode etik jurnalis,” Katanya.

Tambah Sona lagi, dengan mempertanyakan persoalan saya pernah ikut UKW,  RSJ jelas menunjukkan kualitasnya sebagai seorang wartawan yang sudah lulus UKW. Begitu juga sampai pertanyakan masa lalu saya segala macam.

” Harusnya dalam menjalankan tugas sebagai seorang jurnalis harus mengedepankan profesionalisme, apa lagi dia disebut sebagai seorang pelayan di gereja tempatnya beribadah tidak boleh diterpangaruh rasa benci,” kilahnya sambil tersenyum.

” Saya juga bisa saja mengungkit masa lalunya jika saya mau. Belum tentu masa lalu saya jauh lebih kelam dibanding dengan RSJ, cuma sebagai seorang jurnalis harus menjalankan tugas sesuai dengan kode etik,” tandasnya.

Masih Sona, tetapi mungkin karena RSJ sudah kadung kebakaran jenggot atas dugaan dia mencatut puluhan nama wartawan demi mendapatkan uang dari bos mafia BBM subsidi sebagaimana yang diungkap pada pemberitaan di media. ” mungkin dengan demikian dia berusaha menutupinya dengan cari celah pribadi saya,” sebutnya.

Tambah Sona, meskipun saya tidak lulus UKW, tapi saya membuat berita berusaha profesional. ” Kemudian saya tidak mau jadi pengkhianat menjual-jual nama orang lain demi mendapatkan uang dari penjahat untuk biayai makan istri dan anak,” ucapnya mengakhiri. Tim

Berita Terkait

Celoteh Si Bolo

Judulnya ‘Tanah Untuk Rakyat’ harus menjadi atensi bapak presiden karena banyak rakyat yang belum dapat legalitas atas tanah mereka
Bolo: Setuju…

Lapor Pak  Kapoldasu, tambang ilegal disepanjang Sungai Batang Natal masih beroperasi..
Bolo: Sikat aja pak, Tentu kita dukung

Masih marak judi, aparat penegak hukum harus beraksi
Bolo: Jangan Pandang bulu pak, hajar.

 

Terkini

  • Paling Banyak Komentar