Rajudin Sagala : Saat Ini Bukan Waktu yang Tepat Naikkan Pajak

 

MEDAN (Portibi DNP) : Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan, H. Rajudin Sagala, mendukung instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian yang meminta seluruh Pemerintah Daerah (Pemda) agar memperhatikan kenaikan pajak, khususnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Belajar dari yang terjadi di Kabupaten Pati, Tito Karnavian meminta seluruh Pemda di Indonesia agar memperhatikan berbagai faktor secara seksama sebelum menaikkan pajak, agar tidak sampai memberatkan masyarakat.

“Saya sangat setuju dan mendukung betul instruksi Pak Mendagri tersebut, jangan sampai ada masyarakat yang terbenani dengan tingginya kenaikan PBB. Saya rasa semua kepala daerah, termasuk Wali Kota Medan harus mengikuti instruksi tersebut dengan sebaik-baiknya,” ucap Wakil H. Rajudin Sagala, Rabu (20/8/2025).

Dikatakan Rajudin, bukan hanya PBB, tetapi pemerintah daerah juga diharapkan tidak menaikkan pajak-pajak lainnya. Mengingat, kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih belum stabil dan cenderung mengalami kesulitan.

“Kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak stabil. Tentunya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menaikkan pajak,” ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Bukan hanya PBB, tetapi Rajudin Sagala juga menekankan, kenaikan pajak dari sektor yang lain juga belum pantas untuk dilakukan saat ini.

“Segala jenis pajak sebaiknya jangan dinaikkan dalam kondisi seperti saat ini, karena daya beli masyarakat saat ini juga sangat rendah. Jangan lagi tambahkan beban dengan kenaikan pajak, terutama yang terkait PBB, Pajak Kendaraan dan sejumlah jenis pajak lainnya,” tegasnya.

Kalaupun kenaikan pajak harus terjadi sebagai bentuk penyesuaian, maka Rajudin Sagala meminta Pemko Medan untuk tidak menaikkan pajak tersebut secara signifikan.

Akan tetapi, harus betul-betul berdasarkan kajian yang mendalam dan harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.

“Intinya, kalaupun pajak harus dinaikkan, harus melakukan kajian mendalam. Kira-kira pajak mana yang patut dinaikkan dan mana yang tidak, dan itupun harus melihat kondisi masyarakat. Kalau pajak tersebut belum pantas dinaikkan ya jangan dinaikkan,” katanya.

Dijelaskan Rajudin, saat ini pemerintah harus memperhatikan beratnya kondisi sosial di tengah-tengah masyarakat. Angka pengangguran yang tinggi, masih rendahnya pendapatan masyarakat, hingga melambungnya harga sembako harus menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menunda kenaikan pajak.

“Pajak tidak dinaikkan saja kondisi masyarakat sudah sulit. Bagaimana lagi kalau dinaikkan, masyarakat akan menjerit,” jelasnya.

Ditegaskan Rajudin, sebagai kota besar, Medan sebenarnya memiliki potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat besar dari sektor pajak maupun retribusi. Akan tetapi, selama ini sektor-sektor tersebut masih belum digali secara maksimal.

“Untuk itu, sebaiknya fokus pada kebocoran PAD, bukan fokus menaikkan pajak. Tanpa kenaikan pajak, PAD bisa ditingkatkan asalkan kebocoran-kebocoran ini bisa diatasi,” tegas Rajudin.

Wakil Rakyat asal Dapil I (Medan Helvetia, Medan Baru, Medan Barat, dan Medan Petisah) ini mengatakan, kebocoran PAD itu belum juga teratasi secara konkret karena pengawasan yang dilakukan oleh setiap OPD dalam meminimalisir kebocoran PAD belum berjalan dengan baik.

“Kepala daerah harus memperketat pengawasan di seluruh OPD. Semua yang mengutip pajak harus diawasi secara ketat, jangan sampai terjadi penyelewengan,” imbuhnya.

” Jangan sampai pajak yang diterima Pemko Medan tidak sesuai dengan pajak yang telah dibayarkan masyarakat, dan juga jangan ada petugas yang ‘main mata’ dengan wajib pajak,” pungkasnya.P06

Berita Terkait

Celoteh Si Bolo

Judulnya ‘Tanah Untuk Rakyat’ harus menjadi atensi bapak presiden karena banyak rakyat yang belum dapat legalitas atas tanah mereka
Bolo: Setuju…

Lapor Pakย  Kapoldasu, tambang ilegal disepanjang Sungai Batang Natal masih beroperasi..
Bolo: Sikat aja pak, Tentu kita dukung

Masih marak judi, aparat penegak hukum harus beraksi
Bolo: Jangan Pandang bulu pak, hajar.

 

Terkini

Paling Banyak Komentar