MEDAN(Portibi DNP): Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Daerah Sumatera Utara menggelar aksi unjuk rasa bertajuk “Indonesia Cemas” Senin (27/7/2025). Aksi ini merupakan ekspresi keresahan kolektif mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap memicu kecemasan sosial di tengah masyarakat.
Dalam kajian isu yang dirilis, BEM SI menyebut bahwa memasuki tahun 2025, Indonesia dihadapkan pada persoalan kompleks di bidang sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran publik terhadap arah masa depan bangsa. Kecemasan tersebut, menurut BEM SI, telah bertransformasi dari keresahan pribadi menjadi ancaman krisis sosial yang nyata.
14 Tuntutan Aksi Mahasiswa
Aksi damai ini membawa 14 poin tuntutan yang mendesak untuk segera ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat maupun daerah. Adapun tuntutan tersebut meliputi:
1. Evaluasi RKUHP yang dinilai melemahkan penegakan hukum dan kebebasan akademik.
2. Penolakan terhadap kebijakan bilateral Indonesia–Amerika Serikat yang berpotensi merugikan ekonomi nasional dan sektor UMKM.
3. Desakan reformasi hukum demi keadilan substantif.
4. Evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul kasus keracunan massal di sejumlah daerah.
5. Pengusutan kasus beras oplosan yang menimbulkan kerugian hingga Rp 100 triliun per tahun.
6. Evaluasi program Danantara yang dinilai belum memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.
7. Penolakan terhadap pengaburan sejarah oleh Fadli Zon yang memicu polemik publik.
8. Desakan pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai upaya konkret pemberantasan korupsi.
9. Pencabutan UU TNI (UU No. 34 Tahun 2004) yang dianggap membuka ruang dwifungsi militer.
10. Evaluasi biaya hidup dan pendidikan yang semakin memberatkan masyarakat.
11. Pengusutan tuntas kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
12. Sorotan terhadap fenomena LGBT di kampus yang dinilai sebagian pihak sebagai krisis moral.
13. Evaluasi kualitas dan akses pendidikan di Sumatera Utara.
14. Evaluasi kebijakan 5 Hari Belajar di sekolah dan dampaknya terhadap keluarga serta sosial-ekonomi.
Seruan untuk Negara Hadir Melindungi
Koordinator Daerah BEM SI Sumatera Utara, Wafi Fauzan Nasution, menegaskan bahwa aksi “Indonesia Cemas” bukan sekadar kritik, tetapi dorongan kuat agar negara mengevaluasi kebijakan dengan berpihak kepada rakyat.
“Kami ingin negara hadir untuk rakyat, bukan malah menambah beban. Reformasi hukum, perlindungan konsumen, dan pendidikan harus dilandasi fakta dan keberpihakan,” tegas Wafi.SF
















