MEDAN(Portibi DNP): Memasuki usia 94 tahun, **Pemuda Muhammadiyah** kembali menegaskan dirinya sebagai gerakan kepemudaan yang matang, visioner, dan memiliki akar kuat dalam sejarah perjuangan bangsa. Hampir satu abad lamanya kader-kader Pemuda Muhammadiyah hadir di berbagai ruang sosial, dakwah, pendidikan, kemanusiaan, dan advokasi publik—menjadi bagian penting dari denyut perubahan Indonesia.
Perjalanan panjang ini bukan sekadar rentang waktu, tetapi rangkaian ikhtiar kolektif yang melahirkan generasi demi generasi pemuda yang tangguh, berakhlak, dan memiliki kapasitas intelektual yang mampu menjawab tantangan zaman. Spirit inilah yang harus terus dijaga menjelang 1 abad Pemuda Muhammadiyah: bahwa gerakan ini bukan hanya besar karena sejarahnya, tetapi karena peran nyata dan kontribusinya yang terus relevan.
Kini, saat kita melangkah menuju fase satu abad, ada tiga poros penting yang harus diperkuat:
**Pertama, bertumbuh dalam intelektualitas.**
Pemuda Muhammadiyah harus menghadirkan kader-kader yang mampu membaca perubahan global, memahami dinamika sosial, dan memiliki kapasitas kebijakan publik yang kuat. Era digital dan perkembangan teknologi menuntut kemampuan baru: literasi data, pemahaman geopolitik, ketahanan informasi, dan kemampuan memimpin di tengah kompleksitas. Intelektualitas bukan lagi pilihan, tetapi keharusan agar gerakan ini menjadi rujukan strategis bagi umat dan bangsa.
**Kedua, mengakar dalam gerakan umat dan masyarakat.**
Gerakan yang dewasa adalah gerakan yang dekat dengan problem riil masyarakat. Pemuda Muhammadiyah harus memperluas ruang kerja: pemberdayaan ekonomi, gerakan sosial, advokasi kebijakan, literasi keagamaan, dan penguatan komunitas. Program-program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat—baik di desa maupun kota—harus terus dikembangkan agar manfaat gerakan semakin dirasakan secara nyata.
Mengakar berarti hadir bersama masyarakat, mendengar aspirasi mereka, dan menghadirkan solusi sesuai kebutuhan zaman. Inilah cara agar Pemuda Muhammadiyah tidak hanya besar secara historis, tetapi kuat secara sosial.
**Ketiga, berperan strategis untuk Indonesia jaya.**
Di ruang kebijakan publik, Pemuda Muhammadiyah harus tampil sebagai suara moral yang cerdas dan argumentatif. Di ruang ekonomi, kader-kadernya harus berani membangun usaha, membuka lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian umat. Di ruang sosial dan kemanusiaan, harus hadir sebagai pelindung kaum lemah. Di ruang digital, dunia kepemudaan harus mengambil peran dalam narasi kebangsaan, menjaga informasi bermartabat, melawan hoaks, dan memperkuat persatuan.
Menjelang 1 abad, Pemuda Muhammadiyah harus naik kelas: dari hanya menjadi pelaksana program, menjadi penggagas kebijakan; dari hanya menjadi pengikut arus, menjadi penentu arah.
Semangat “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” bukan hanya tema milad, tetapi arah besar perjalanan gerakan kita. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tanpa akar akan rapuh, dan akar tanpa pertumbuhan akan mandek. Pemuda Muhammadiyah harus memiliki keduanya: kekuatan intelektual yang progresif serta fondasi moral yang kokoh.
Kini, saat usia kita memasuki 94 tahun, mari kita jadikan momentum ini sebagai penguatan visi menuju 100 tahun: visi yang lebih tajam, langkah yang lebih mantap, dan komitmen yang lebih besar untuk terus memberi manfaat.
Mari melaju dengan karya, gagasan, dan keberanian.
Mari meneguhkan bahwa Indonesia yang maju, berkeadilan, dan bermartabat hanya mungkin hadir jika pemudanya mengambil peran besar.
Selamat Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah.
Semoga Allah SWT meridai setiap ikhtiar perjuangan kita.
*Seftian Eko Pranata – Ketua Bidang Hikmah & Kebijakan Publik PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara*



















