LPA Labura : Usut Kematian Anak di Kolam Renang Permata Hotel

LABURA ( Portibi DNP): Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Labuhanbatu Utara (Labura), meminta kepolisian mengusut tuntas penyebab kematian A boru S, warga Desa Padang Mahondang, Kabupaten Asahan, seorang anak di bawah umur yang tewas tenggelam di kolam renang milik Hotel Permata Warna, Jl. Pejuang, Aek Kanopan.

Pelajar yang masih berusia 17 tahun itu ditemukan tenggelam di dalam kolam renang milik Hotel Permata Warna Aek Kanopan pada Senin 17 Juni 2024, sekira pukul 12.20 WIB.

Informasi Diperoleh, Anita pergi ke kolam renang bersama dengan Erlina Sitinjak, seorang perempuan paruh baya, warga Kampung Teladan, Kelurahan Aek Kanopan, dan MPG, 12 tahun.

Menyikapi peristiwa tewasnya anak di bawah umur ini, Ketua LPA Labura, Ahmad Ardiansyah Harahap, SH, langsung menyambangi Hotel Permata Warna guna mengonfirmasi pengelola hotel berkaitan dengan kelayakan kolam renang yang ramah terhadap anak.

Sangat disayangkan, J. Silitonga, pimpinan hotel tak berhasil ditemui. Beberapa karyawan yang bertugas di sana menyebutkan, sang pimpinan sedang tidak berada di tempat.

Pantauan Portibi DNP, Rabu (19/6), Dedi Harahap, begitu sapaan akrabnya, bersama sejumlah rekan satu lembaganya tampak mengecek kolam renang yang menjadi tempat melayangnya nyawa A boru S.

Usai mengecek, kepada Portibi DNP, Dedi mengungkapkan sejumlah kejanggalan yang ditemukannya di kolam renang tersebut. Di antaranya, Dedi menyoal struktur bangunan kolam renang yang tidak terpisah antara kolam dangkal untuk anak-anak dengan kolam dalam untuk orang dewasa.

Kata Dedi, untuk memisahkan antara kolam dangkal dan kolam dalam, pengelola hanya membuat tanda memakai pelampung pembatas kolam yang dipasang menggunakan seutas tali.

Sesuai hasil wawancaranya dengan dua orang karyawan hotel yang sedang bertugas, Dedi menyebut, fasilitas kolam renang Hotel Permata Warna ternyata tak memiliki petugas pengawas kolam renang atau yang biasa disebut lifeguard.

Lifeguard ini adalah petugas yang memiliki keterampilan khusus untuk menjalankan protokol pertolongan terhadap kecelakaan yang terjadi di air atau kolam renang.

Ketiadaan lifeguard ini memunculkan asumsi bahwa manajemen Hotel Permata Warna tidak taat pada aturan yang berkaitan dengan pengelolaan kolam renang yang memenuhi standar keselamatan pengunjung.

Di sana juga tidak diperoleh keterangan tentang adanya Prosedur Operasi Keamanan (PSOP) kolam renang. PSOP ini adalah serangkaian Prosedur Operasi Normal dan rencana tindakan darurat yang terdokumentasi untuk kolam renang komersial.

“Kita menemukan kolam renang ini tidak didukung dengan fasilitas dan pengelolaan yang baik. Banyak unsur pendukung keselamatan yang tidak dipenuhi oleh pengelola yang berakibat pada hilangnya nyawa orang, “ kata Dedi.

Untuk itu, lanjutnya, kami meminta kepolisian dapat mengusut dan mengungkap apa sebenarnya penyebab kematian A boru S. Ini menyangkut hilangnya nyawa orang yang harus diketahui penyebabnya, tambahnya.

Selain meminta kepolisian mengusut kematian A boru S, Dedi Harahap juga meminta Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara, meninjau ulang perizinan Hotel Permata karena mengoperasikan kolam renang yang diduga tidak memenuhi standar keselamatan.

“Dari aspek perlindungan anak, kami melihat kolam renang ini tidak mendukung standar kelayakan yang ramah terhadap anak. Dengan ini kami meminta agar Pemkab Labura meninjau ulang perizinan hotel ini, “ pungkas Dedi. (renz).

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hati hati pak, mantan koruptor yang mainkan peran perpolitikan di Sumut dibelakang layar..

-Bolo: Bah sembunyi di dalam terang, sakitnya tak seberapa, malunya ini .

 

 

-Lapor Pak  Kapoldasu, tambang ilegal disepanjang Sungai Batang Natal masih beroperasi..

-Bolo: Sikat aja pak, Tentu kita dukung

 

-Masih marak judi, aparat penegak hukum harus beraksi

Jangan Pandang bulu pak, hajar…