Belanja BBM Tahun 2025 di DLH Binjai Diduga Dipertanggungjawabkan Tidak dengan Bukti Pembelian yang Sebenarnya

 

BINJAI (Portibi DNP) : Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2024 menemukan adanya belanja Bahan Bakar Minyak (BBM) di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Binjai sebesar Rp784.239.243 yang diduga tidak sesuai ketentuan.

Menurut BPK, atas permasalahan tersebut pemerintah Kota (Pemko) Binjai diduga belum menindaklanjuti sesuai rekomendasi BPK.

Dugaan ini tertulis pada Laporan Hasil Pemeriksaan kepatuhan atas belanja barang dan jasa tahun anggaran 2025, bernomor : 18/T/LHP/DJPKN-V.MDN/PPD.03/02/2026, tertanggal 12 Februari 2026.

Selain itu, BPK juga menulis, menemukan adanya belanja BBM pada Tahun 2025 di DLH Binjai diduga dipertanggungjawabkan tidak dengan bukti pembelian yang sebenarnya.

Berikut uraian yang dikutip dari LHP tersebut.

Berdasarkan keterangan dari pejabat penatausahaan keuangan pada DLH Binjai diketahui bahwa, belanja bahan bakar dilakukan dengan dua cara yaitu reimburse dan sistem voucher, sebagai berikut.

Mekanisme belanja bahan bakar :

a. Reimburse s.d. 24 Juli 2025

b. Pembelian dengan voucher (bekerjasama dengan Stasiun

Pengisian Bahan Bakar

Umum (SPBU) sejak 25

Juli 2025)

Keterangan :

Reimburse:

Pengguna kendaraan

menggunakan dana pribadi terlebih dahulu kemudian mengajukan penggantian uang kepada bendahara pengeluaran dengan menyampaikan struk/nota pembelian bahan bakar.

Selanjutnya, bendahara pengeluaran membayarkan belanja sesuai dengan jumlah struk/nota yang disampaikan.

Untuk realisasi belanja bahan bakar dengan menggunakan sistem voucher, dijelaskan sebagai berikut.

a. DLH Binjai melakukan perjanjian kerjasama dengan SPBU, kemudian DLH Binjai melakukan pembayaran deposit kepada SPBU.

Selanjutnya, DLH Binjai membuat semacam voucher untuk dibagikan kepada supir/pengguna kendaraan.

b. Pada DLH, dalam dokumen Delivery Order (DO) disajikan informasi mengenai nomor polisi, jenis bahan bakar dan jumlah liter maksimal harian/volume BBM yang dapat diisi atas masing-masing kendaraan. DO tersebut diserahkan kepada seluruh supir.

c. Selanjutnya supir membawa DO tersebut ke SPBU yang ditunjuk sebagai ganti pembayaran belanja bahan bakar.

Kemudian, operator SPBU menyerahkan struk/nota kepada supir sebagai bukti telah dilakukan pengisian bahan bakar.

Jumlah belanja sesuai struk/nota tersebut sesuai dengan jumlah bahan bakar yang riil diisikan.

Jumlahnya tidak selalu harus sama dengan jumlah bahan bakar sesuai DO.

d. Pada akhir bulan, PPTK melakukan rekonsiliasi pencatatan realisasi belanja

bahan bakar dengan manager SPBU untuk mengetahui berapa belanja yang sudah direalisasikan.

e. DLH Binjai akan melakukan top up pembayaran deposit jika jumlahnya sudah tinggal sedikit.

f. Selanjutnya, pejabat penatausahaan keuangan pada DLH Binjai menyusun dokumen pertanggungjawaban belanja bahan bakar sesuai dengan struk/nota yang disampaikan oleh seluruh supir melalui PPTK.

Untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas keabsahan bukti belanja, tim pemeriksa melakukan pengujian atas dokumen pertanggungjawaban belanja bahan bakar.

Berdasarkan pemeriksaan, ada peraturan yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan belanja bahan bakar pada DLH Binjai yang diuji petik, sebagai berikut.

1) Perwal Kota Binjai Nomor 28 Tahun 2024 tentang SHS Barang dan Jasa,

yang mengatur besaran beban pemeliharaan alat angkutan sesuai Perpres Nomor 33 Tahun 2020, pada kode kelompok barang 8.1.02.03.02.0035.

2) Perwal Kota Binjai Nomor 27 Tahun 2023 tentang Sistem dan Prosedur

Pengelolaan Keuangan Daerah, yang mengatur mengenai sistem dan prosedur pelaksanaan belanja.

3) Dan, khusus pada DLH diatur dengan SK Kepala Dinas Nomor 800/2372/DLH/III/2025 tentang Penggunaan Bahan Bakar Minyak Truk Pengangkut Sampah, Alat Berat, Becak Sampah Bermotor dan Becak Taman TA 2025, yang mengatur tentang jumlah maksimal penggunaan bahan bakar minyak harian.

Hasil analisis atas peraturan tersebut menunjukkan bahwa belum ada pengaturan yang lengkap dan jelas mengenai tata cara pelaksanaan, pertanggungjawaban dan batas belanja bahan bakar, sebagaimana diuraikan berikut.

1. Perwal Kota Binjai Nomor 27

Tahun 2023

Hasil analisis :

Hanya mengatur mengenai tentang tata cara pelaksanaan dan penatausahaan belanja secara umum.

2. Perwal Kota Binjai Nomor 28

Tahun 2024

Hasil analisis :

Hanya mengatur mengenai besaran belanja pemeliharaan alat angkutan yang dikutip dari Perpres Nomor 33 Tahun 2020 untuk setiap unit kendaraan per tahun. Tidak ada pengaturan mengenai besaran belanja bahan bakar secara khusus.

Tidak ada penjelasan mengenai:

a. apakah besaran tersebut merupakan batasan maksimal

b. Dan, bagaimana pengalokasian belanja pemeliharaan tersebut untuk pembelian bahan bakar, servis dan lainnya.

SK Kepala DLH Nomor 800/2372/DLH/III/2025

Hasil analisis :

Hanya mengatur mengenai jumlah maksimal penggunaan bahan bakar minyak harian untuk Truk Pengangkut Sampah, Alat Berat, Becak Sampah Bermotor dan Becak Taman.

Jika dibandingkan dengan besaran yang yang diatur pada Perwal Kota Binjai Nomor 28 Tahun 2024, ketentuan besaran belanja bahan bakar sesuai SK ini melebihi ketentuan SHS.

Hasil pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban realisasi belanja danpermintaan keterangan dengan pejabat penatausahaan keuangan pada DLH Binjai yang diuji petik menunjukkan tidak ada batasan jumlah belanja bahan bakar untuk masing-masing kendaraan/alat, sehingga selama anggaran pada DPA masih tersedia, maka atas bukti pembelian bahan bakar dapat dibayarkan.

 

Lalu, berdasarkan pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban belanja bahan bakar meliputi, kuitansi tanda pembayaran belanja yang ditandatangani oleh penerima uang, bendahara

pengeluaran, PPTK dan Kepala DLH Binjai, tanda terima uang serta bukti pembelian bahan bakar dari pihak ketiga/ SPBU berupa struk.

Untuk menguji kesesuaian struk pembelian bahan bakar tersebut, tim pemeriksa melakukan konfirmasi/permintaan dokumen kepada enam SPBU

pada wilayah Kota Binjai dan permintaan dokumen transaksi penjualan bahan bakar kepada PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Hasil pengujian antara struk dengan data dari SPBU menunjukkan bahwa terdapat bukti pembelian bahan bakar yang tidak sebenarnya atau bukan yang dikeluarkan oleh pihak SPBU.

Hasil pengujian ini didukung juga dengan data yang diperoleh dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut yang menunjukkan bahwa struk yang dilampirkan pada dokumen pertanggungjawaban tidak terekam pada data transaksi penjualan pada masing-masing SPBU terkait sebesar Rp286.129.123.

Atas permasalahan tersebut, dilakukan konfirmasi dengan bendahara pengeluaran, PPTK dan penerima uang. Bendahara pengeluaran dan PPTK

menyatakan bahwa dalam penyusunan dokumen pertanggungjawaban belanja  bahan bakar yang bersangkutan menerima struk pembelian bahan bakar dari penerima uang.

Verifikasi atas dokumen tersebut hanya terkait kesesuaian jumlah dan kelengkapannya.

Bendahara pengeluaran dan PPTK tidak mengetahui mengenai kebenaran struk pembelian bahan bakar tersebut.

Dengan demikian kebenaran struk pembelian bahan bakar adalah tanggungjawab masing-masing penerima uang belanja (baik pengguna  kendaraan atau supir/staf).

Selanjutnya hasil konfirmasi dengan penerima uang belanja menunjukkan

bahwa struk yang dilampirkan pada dokumen pertanggungjawaban bukan yang sebenarnya, karena struk tersebut didapatkan ataupun dibeli dari pihak lain.

Hal ini dilakukan karena struk yang sebenarnya sudah hilang/rusak dan

uang belanja digunakan untuk mengakomodir pengeluaran lain yang tidak ada dianggarkan.

Tim pemeriksa telah memberikan kesempatan kepada masing-masing  penerima uang belanja untuk menyampaikan penjelasan dan dokumen  pembelian yang sebenarnya.

Namun, tidak seluruhnya penerima uang belanja masih menyimpan dokumen tersebut.

Masing-masing penerima uang belanja menyatakan akan melakukan pengembalian ke kas daerah.

Kondisi tersebut tidak sesuai, diantaranya Perda Kota Binjai Nomor 2 Tahun

2023 tentang Pokok- Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah, pada Pasal 10 ayat (1) huruf k yang menyatakan bahwa “kepala SKPD selaku PA bertugas mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya”.

BPK menjelaskan bahwa, Kondisi tersebut mengakibatkan :

a. Pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja bahan bakar pada seluruh SKPD

di lingkungan Pemko Binjai tidak tertib.

b. Dan, Kelebihan pembayaran belanja bahan bakar sebesar Rp286.129.123.

Kondisi tersebut disebabkan oleh:

a. Wali Kota Binjai belum menetapkan ketentuan khusus terkait pengelolaan dan pertanggungjawaban belanja bahan bakar.

b. Kepala DLH Binjai selaku PA tidak melakukan pengawasan atas

pelaksanaan belanja bahan bakar di lingkungan satuan kerjanya.

c. Dan, para penerima uang belanja bahan bakar tidak mempertanggungjawabkan

belanja bahan bakar sesuai ketentuan.

Atas permasalahan tersebut, Wali Kota Binjai melalui Kepala DLH menyatakan sependapat dengan hasil pemeriksaan BPK.

BPK merekomendasikan kepada Wali Kota Binjai agar :

a. Menetapkan ketentuan/pedoman khusus mengenai pelaksanaan dan

pertanggungjawaban belanja bahan bakar di lingkungan Pemko Binjai yang minimal mengatur tentang mekanisme belanja, jenis kendaraan/alat yang

berhak menerima uang belanja bahan bakar, pembatasan kuota pembelian

bahan bakar, jenis dan bukti pertanggungjawaban yang sah dan sanksi administrasi atas pelanggaran ketentuan.

b. Memerintahkan Kepala DLH Binjai untuk :

1) Meningkatkan pengendalian internal dalam pengelolaan belanja bahan

bakar dengan menunjuk petugas khusus untuk mencatat penggunaan

bahan bakar berupa log book kendaraan atau dokumen sejenisnya.

2) Melakukan evaluasi berkala antara realisasi belanja bahan bakar dengan

log book kendaraan yang sudah dibuat serta bukti-bukti pembelian yang

dipertanggungjawabkan.

3) dan, memerintahkan kepada penerima uang belanja bahan bakar supaya

menyampaikan bukti pertanggungjawaban yang sebenarnya.

c. Serta, memproses kelebihan pembayaran sebesar Rp286.129.123 dan

menyetorkannya ke kas daerah.

Wali Kota Binjai menyatakan sependapat dengan rekomendasi BPK dan akan menindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi.

 

Berdasarkan hal itu, wartawan media online portibi.id lalu mencoba melakukan konfirmasi kepada Kepala DLH Binjai Ahmad Yani, S.STP, M.AP, via WhatsApp, Senin (18/05/2026).

Namun, hingga berita ini dimuat belum juga memberi jawaban.(red/tim)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Celoteh Si Bolo

Judulnya ‘Tanah Untuk Rakyat’ harus menjadi atensi bapak presiden karena banyak rakyat yang belum dapat legalitas atas tanah mereka
Bolo: Setuju…

Lapor Pak  Kapoldasu, tambang ilegal disepanjang Sungai Batang Natal masih beroperasi..
Bolo: Sikat aja pak, Tentu kita dukung

Masih marak judi, aparat penegak hukum harus beraksi
Bolo: Jangan Pandang bulu pak, hajar.

 

Terkini

  • Paling Banyak Komentar